Kamis, 20 Juni 2013

Rokok (lagi)




     Ada anak kecil yang mungkin masih duduk di bangku sekolah dasar sedang asik bercengkrama dan dengan lihainya menjamah sebatang rokok. Terlukislah liuk-liuk kepulan asap.
Hey, fenomena ini nampaknya bukan lagi menjadi sesuatu yang tabu. BAGAIMANA BISA ???
entahlah. Ingat, anak kecil peniru ulung. Mereka cepat menirukan apa yang mereka temui di lapangan tanpa pemahaman yang kuat, disini mereka terlihat seperti kehilangan sosok “pencerah”.
ini namanya penjajahan secara halus namun dampaknya sangat cetarr. Bayangkan genarasi kita sedang di rusak saat mereka masih dalam pertumbuhan, kesehatan mereka di incar dan di rusak sejak dini. Bukankah kita memerlukan generasi yang kuat ?? kuat dari segi fisik dan rohani.
FOR WHAT ??
untuk melawan dan memberantas berbagai jenis bentuk penindasan serta ketidak adilan di negeri ini. Lalu bagaimana jadinya kalau yang terjadi malah sebaliknya. Generasi kita tumbuh menjadi generasi sakit-sakitan. Tentu kalian tahu sedikit banyak dampak merokok, yang sering terpampang di bungkus rokok itu sendiri. Mulai dari jantung, stroke, gangguan kehamilan, dan berbagai penyakit berbahaya lainnya.
saya jadi begitu tertarik untuk membahas masalah ini, selain karena saya benci asap rokok, saya juga sudah sangat gerah mengahadapi fenomena alienasi seperti ini. Alienasi sendiri menurut Marx, merupakan bentuk individualisme yang di ciptakan masyarakat ketika mereka memutuskan untuk sibuk dengan dunianya masing-masing maka terbentuklah rasa saling mengabaikan.

Industri rokok penting untuk ekonomi Indonesia ??
Sedikit yang bisa saya kutip dari buku Pandji Pragiwaksono dan dari data ylki.or.id, menyebutkan bahwa industri tembakau hanya memberikan kontribusi sebesar  sedikit  1% dari total output nasional dan menduduki peringkat ke-34. Selain itu upah para pekerja industri rokok juga rendah, tidak menjamin mobilitas vertikal ekonomi para buruh. Upah petani tembakau bahkan jauh lebih rendah. Disitu dapat di ketahui bahwa sejak zaman belanda hingga sekarang relatif stagnan status ekonominya, selalu dalam kemiskinan struktural.

fakta terakhir, tahukah anda bahwa peruhasaan rokok di Indonesia kebanyakan merupakan perusahaan milik Amerika dan Inggris, sementara di Amerika dan Inggris masyarakatnya sudah di larang keras untuk merokok.WoWW.. tidakkah ini membuat Indonesia jadi tampak bodoh?.

bayangkan ada koboi datang dan berkata, “hai, orang Indonesia, isaplah ini.... enak sekali!”. Orang Indonesia-nya mengisap, lalu berkata, “Wah, benar enak sekali, Anda suka juga?”
koboy menjawab, “oh,... saya tidak suka karena tidak baik untuk kesehatan saya”. Jawab si koboi sambil berlalu dengan kudanya.

setiap orang memiliki perspektif yang berbeda di dasari dari pengalaman, pengetahuan yang berbeda. Nah, sekarang setelah tahu sedikit fakta tentang rokok yang erat kaitannya dengan generasi dan nasib tanah air kita masihkah kita ingin terus berada di zona aman dengan berpura-pura tertidur dengan fakta tersebut??
mari bergerak, lakukan sedikit perubahan. Dari hal terkecil untuk dampak yang besar. Berhenti egois dengan tidak mengepulkan asap rokok.  Tentu anda kenal dengan istilah perokok pasif. Bahaya yang di dapat dari prokok pasif bahkan lebih besar dari perokok aktif sendiri. Save our familly. Mari kita perpanjang usia kita dengan aksi saling peduli. Bayangkan kalau satu orang saja yang hari ini tersadar untuk berhenti merokok dan kemudian mensosialisasikannya ke orang lain dan kemudian orang lain tersebut ikut mensosialisasikannya saya yakin, memiliki generasi yang sehat dan kritis bukan lagi hanya sekedar cita-cita namun akan menjelma menjadi realita.

Senin, 17 Juni 2013

kalau masa lalu begitu gelap, sudahlah. jangan lihat ke belakang, spion di buat hanya untuk sesekali di lihat.
jangan lagi menumbuhkan obsesi baru pada individu-individu jika itu hanya sekedar pengharapan tanpa pencapaian.
proses mengingat dan melupakan tidak semudah mebalik telapak tangan
masalah hati dan perasaan bukan untuk di permainkan, kawan !!
aku, kamu. sama, selayaknya ingin dihargai
rasa sakit yang terprangkap dalam emosi jiwa, menganiaya-teraniaya, melahirkan satu tindakan yang sulit dijelaskan dengan akal sehat.
ketika logika tak lagi mempuni lumpuhkan rayuan. musnahlah sudah segala pertahanan
apa yang harus aku pertanggungjawabkan kelak ketika datang hari perhitungan
apa yang akan aku berikan,