Sabtu, 14 Januari 2012

Sean...... teman di tengah rimba

arhhh.... (mengerang)
"saa...sakitt sekali", entah berapa banyak tetesan, bukan. cucuran airmata yang ingin berlarian kepipiku, tapi aku terlalu angkuh untuk membiarkan kalian membuatku terlihat cengeng. itu bukan gayaku.

stop. Sit down - sedang kupraktekan sejak aku terjebak kedalam lubang berukuran 8x2 m. Thinking, ya aku harus berpikir jernih dan tenang, jangan sampai ketakutanku menjadi langkah kematian.

"sial, sulit sekali konsentrasi disaat seperti ini. sekarang aku terkurung dalam ruang sempit di tengah hutan dan sendiri. kabar baiknya lagi hari mulai gelap", 

lebih baik aku mengobservasi sekelilingku, mungkin ada harapan untuk bebas dari tempat ini. akar pohon mungkin bisa membantu. kucoba untuk menaiki satu per satu akar-akar yang muncul disela tanah. dan lagi-lagi gagal. terlalu licin.

"baiklah... malam ini aku akan menidurimu. PUAS !!", aku mulai kesal dengan alam yang mulai tak bersahabat.
sejenak aku tenang tapi kemudian mulai bosan, rapuh dan entahlah... ingin mengamuk tapi percuma, tidak akan mengubah keadaan.



lebam dan lecet disana-sini rasanya sudah tidak terasa. laparpun berubah jadi kenyang. angin kian menusuk hingga ketulang. andai saja aku bisa mengambil ransel yang tersangkut itu mungkin akan sedikit lebih bermanfaat.

"oh, alam. apa salahku. bukankah selama ini aku mencintaimu. kuobati setiap lukamu walau sebagian. kenapa kau biarkan aku disini. kau ingin memelukku lebih dekat ?? silahkan. tapi besok kau harus membiarkan aku pergi ya." ah, lama-lama bisa gila

kurenungi lagi setiap detik yang terlewat. andai saja...
ya, andai saja aku mau sedikit mendengarkan. mereka. tentu tidak begini ceritanya. harusnya malam ini aku sedang duduk manis dan bercengkrama dengan laptop biru-ku, sambil menunggunya datang. ahh, kenapa dia? sudahlah lupakan. perlahan aku tertidur.

"hei, bangun.."
samar namun pasti kudengar seseorang membangunkanku. ya aku tahu siapa itu. Mama...

"mama..(menangis). ma.... Dian kangen. maafin Dian, Dian lancang, pergi tanpa izin mama. bagaimana mama bisa menemukanku?" aku heran tiba-tiba aku sudah berada di atas dan ada mama disampingku

"....(tersenyum). ayo kita pergi dari tempat ini" sahut mama

aneh....dan biarlah yang penting aku terbebas. baru selangkah aku beranjak tiba-tiba aku terpeleset dan... lagi-lagi terjatuh dalam lubang yang sama.
percayalah, bebas dan berada disamping mama saat ini hanyalah mimpi. ya, aku hanya bemimpi.
mimpi yang membangunkanku dalam kegelapan sementara. embun pagi mulai semerbak. membasahi ubun-ubun.

"mungkin mama sedang memikirkanku", batinku. mencoba membangun semangat dipagi hari

tidak banyak yang bisa kulakukan pagi ini selain duduk, berdiri, berpikir hingga akhirnya pasrah. tapi aku masih punya sedikit keyakinan dan usaha untuk bebas. aku yakin akan ada yang menolongku karena tempat ini tidak terlalu jauh dari jalan setapak yang sering dilewati oleh komunitas pencinta alam. setidaknya teman-temanku sendiri. mungkin saat ini mereka sedang menikmati sarapan pagi dengan mie instan, abon, atau makanan siap saji lainnya dengan hangatnya kebersamaan di puncak sana. mereka tidak tahu kalau aku menyusul kepergian mereka. perlu melewati tiga bukit lagi untuk menuju tempat tersebut.

"tolong....haiiii....kaliannn....aku disini....",

tetap tidak ada yang dengar

untuk kesekian kalinya aku mencoba teriak dan memohon untuk diselamatkan... ahh biarlah terkesan cemen ada hal yang lebih penting dari ini.


hari mulai gelap lagi. dan aku kembali meratapi nasib tanpa airmata.

"ma...mama sayang.... mama...." semua usaha sudah kulakukan untuk usir sepi malam ini. rintik hujan mulai menyelimuti ketenanganku.



disaat seperti ini aku bisa merindukan keramaian kota, cerewetnya mama, kebersamaan yang terabaikan serta  perhatian yang tak terjamah.
tamatlah riwayatku jika malam ini hujan deras. mungkin aku akan tenggelam di lubang ini dan mengubur serta mimpi manisku. selamat tinggal semuanya, mama, ayah, saudaraku, cinta dan kebahagiaanku serta lukaku.

begitu pasrahnya diriku malam ini. hingga lupa akan keangkuhan yang menemaniku. seandainya hanya tersesat di hutan mungkin masih banyak cara yang bisa aku lakukan.
aku masih bisa kembali kejalan semula, menemukan jejak yang ada ,membuat tempat berlindung sementara (bivac). mencari sumber air dan makanan. atau membuat api unggun dan menghindari sarang binatang buas. tapi medan yang kuhadapi sekarang berbeda. memang masih dihutan namun kali ini lebih dalam, ya sebuah lubang sempit. yang hampir membuat kakiku matirasa karena terkilir dan kucuran darah yang mulai mengkristal. untung saja tidak ada tulang yang patah. tapi aku mulai lapar. kalau haus masih bisa kuatasi dengan mengumpulkan rinai gerimis yang membasahi bajuku.
percayalah aku mulai bosan. walau belum begitu malam namun aku memutuskan untuk memejamkan mata. dan untuk terakhir kalinya aku berteriak.

"siapapun tolong aku,, akan kuingat jasa kalian dan aku juga akan menolongmu".

"huft...percuma. baiklah malam ini aku akan menginap disini lagi. okehh".

detik lari kemenit dan menjelma menjadi jam-jam yang membosankan, hampa, dan terasingkan. dengan kepasrahan aku tetap berdoa semoga akan datang keajaiban. dan...

"hei.... ada orang disana",
kudengar suara laki-laki dari atas sana

"yaaa,, aku disini..." aku kegirangan dan menari dengan kaki yang terkilir

"sedang apa kau disana", tidakkah itu pertanyaan bodoh

"menurutmu ?? apakah aku terlihat sedang bermain?? aku terjatuh".

"tunggu sebentar aku akan membantumu keluar"

"cepatlah"

lelaki itu mulai cekatan melilitkan tali pada sebuah pohon dan membentuk simpul

"kau bisa membuat harnes manualkan??" teriaknya

"ya".

dia melemparkan ujung tali yang sudah diikat dipohon sebelumnya serta webbing, karabiner, figur eight atau dikenal juga dengan figur delapan. terjalinlah sebuah simbiosis mutualisme. hingga akhirnya aku terselamatkan. tadaaa... aku bebas. benarkahhh aku bebass?? horee

"terimakasih", refleks aku memeluknya

"sama-sama"

"maaf"

"tidak apa-apa", sahutnya dengan senyumnya yang hangat. lebih hangat dari api unggun yang sedari tadi menerangi kami.

"oh,ya.. namaku Dian". ucapku sembari mengulurkan tangan untuk saling menjabat

"Sean. sendiri dan tanpa bekal yang memadai. apa yang membuatmu begitu nekat?"

"aku. aku hanya ingin menyususl teman-temanku yang sedang menghabiskan sisa libur kuliah mereka dipuncak sana".

"tidak peduli betapa bahayanya pergi sendiri ?". Sean menyodorkan secangkir teh kepadaku

"entahlah, saat itu aku telalu percayadiri mungkin. bahkan aku berani pergi tanpa pamit pada orang tuaku."

"oh ya ?? hebat"

"apanya yang hebat. huh"

"haha...santai saja, kau itu perempuan walaupun kau sering mendaki gunung dan berpengalaman sekalipun mana boleh pergi sendirian ke tengah hutan seperti ini. teman itu penting. karena merekalah rekan terdekat kita saat kita mendaki dan merekalah yang pertamakali akan membantu kalau terjadi seseuatu."

"oke. aku menyesal. tapi sebenarnya ada hal lain yang membuatku lebih nekat. aku benci dengan kemunafikan yang aku temui di kota. tadinya saat di ajak untuk camping aku lebih memilih berada dikota. aku pikir akan menyenangkan mengisi waktu libur bersama orang-orang tercinta. tapi kenyataannya. huhh"

"kakimu masih sakit??"

"lumayan,, tapi masih bisa digerakkan"

"hmm,, siapa dia??"

"maksudmu ??"

"yang membuatmu nekad ??"

"owh,,sudahlah tidak begitu penting"

"ayolah, aku ingin dengar. sepertinya menarik. kekasihmu?"

"ya. emm,,maksudku bukan. dia temanku tapi begitu dekat. kami berteman sejak smp. tiga tahun yang lalu dia pergi untuk meneruskan kuliahnya diluar negeri. dia tahu kalau aku menyukainya dan sebelum pergi dia sempat memintaku berjanji untuk menunggunya kembali"

"lalu ?"

"dan saat itu tiba. aku menjemputnya kebandara. kau tahu apa yang ku temui ?. kulihat dia sedang menggendong seorang anak kecil dan seorang wanita disampingnya. mereka terlihat serasi dan bahagia. mungkin itu jawaban setahun ini dia tidak menghubungiku "

" jadi dia menikahi wanita lain"

"ya, begitulah. aku yakin itu isteri dan anaknya. saat itu juga aku putuskan untuk pulang dan mengemasi barang-barangku dan pergi ke hutan"

"hmm, berarti kau bahkan belum sempat menyapanya. menurutku kau terlalu cepat mengambil kesimpulan. ingatlah terkadang apa yang kita lihat tidak sama dengan yang sebenarnya terjadi. aku sarankan agar nanti kau tanyakan langsung apakah benar dia sudah menikah."

"terimakasih sarannya. ahh,, kenapa jadi curhat sih"

"tidak apa-apa, lagi pula tidak ad bahan pembicaraan"

"hmm,, kamu mapala?"

"bisa dibilang begitu"

"owh,, baiklah sekarang gilranmu cerita"

"baiklah, darimana ceritanya"

"darimana sajalah"

"baik, tadinya aku pergi bersama teman-temanku yang lain. kami begitu akrab dan hangat. hingga di tengah perjalanan kami di pisahkan oleh kejaran binatang buas. aku tidak tahu mereka berlari kemana yang pasti sampai sekarang aku tetap sendiri disini. aku berharap mereka selamat dan baik- baik saja."


"jadi kau tersesat??"

"tadinya, tapi sekarang aku tahu jalan pulang hanya saja ada satu masalah yang membuatku tetap tinggal disini"

"teman-temanmu ?"

"bukan"

"lalu ? katakan saja mungkin aku bisa membantumu"

"ya, kau memang harus membantuku. sesuai perjanjian bukan"

"apa yang harus aku lakukan"

"kita lihat saja besok. sekarang tidurlah. kau terlihat sangat lelah"

"aku masih ingin ngobrol. kau tahukan betapa sepinya sendiri di dalam lubang sempit."

"hmm,, oh ya apa kamu tidak khawatir dengan orang tuamu. tadi kau bilang pergi tanpa pamit. pasti sekarang mereka sudah mencarimu kemana-mana."

"sudah pasti aku khawatir dan menyesal tapi sebelum pergi aku sempat menulis pesan kalau aku pergi ke hutan".



"andai aku tahu akan ada pertemuan terakhir aku sangat ingin memeluk ibuku, dan meminta maaf padanya. dia sangat berharga dan terkadang tanpa sengaja aku telah melukai hatinya seperti saat ini. aku tidak bisa memberikan waktuku untuknya. kukubur mimpinya ditengah rimba." sean  tertunduk dan meneteslah airmata.

"hey bicara apa kau ini. kita masih bisa keluar dari hutan ini. tenanglah, dengan bekal ilmu yang kita miliki kita pasti kembali ke kota lagi. ayo semangat !!"

sean hanya mengangguk.

"aneh, sudah hampir pagi begini aku belum juga ngantuk."

"bagaimana kalau kita mencari sesuatu yang bisa dimakan"

"ide yang brilian"

kami menelusuri semak-semak yang mulai gondrong. wajarlah namanya juga hutan. berharap ada sesuatu yang bisa disantap pagi ini. harus bisa membedakan tanaman yang beracun atau tidak. yang pasti jangan memetik buah atau tanaman dengan warna yang mencolok, getah yang lengket, atau berbau tajam, serta permukaan daun yang berbulu. karena bisa dipastikan tanaman itu mengandung racun.

"sean, bagaimana dengan kekasihmu"

"dia, manis. lebih manis darimu pastinya...haha"

"huh dasar"

"tapi sayang, aku tidak sempat mengutarakan perasaanku karena aku keburu nyasar"

"haha..jadi dia bukan kekasihmu"

"iya,, andai saja waktu bisa berputar kembali tentu tidak akan seperti ini"

"sudahlah, nanti kita akan pulang dan kau harus utarakan perasaanmu"

"baik,, tapi kau harus membantuku"

"kenapa aku, kamu harus mengatakannya sendiri"

"please help me"

"ok"

sean tersenyum. baru aku sadari ternyata sean ini benar-benar manis
hmm,, shitt.. apa yang aku pikirkan.

"hey, lihat disana ada ayam hutan. kita taruhan siapa yang bisa menangkap akan mendapat porsi lebih banyak"

"siapa takut" sahutku

ya, kami mulai berlomba. lari sana, lari sini. kejar-kejaran. dan blukkkk..... aku terpeleset hingga membentur sebuah batu.
sean menghampiriku.

"kau tidak apa-apa."

"entahlah kepalaku sakit se...ka..li."

"ingat ya, kalau kau pulang nanti sampaikan salamku pada ibuku dan juga Risa."

"kk..kkau..mau kemana?? tolong aku."

"NICE TO MEET YOU."

sean berbalik dan kurasakan badanku mulai matirasa serta kepala yang sakit luar biasa. pandanganku mulai redup. ya aku tak sadarkan diri dan..

"Sean tunggu aku", teriak ku

"tenanglah Dian, mama disini", peluk mama

aku bingung. tiba-tiba aku sudah terbaring di rumah sakit. dan mama menceritakan semuanya. katanya dua hari yang lalu tim SAR secara tidak sengaja menemukanku tidak sadarkan diri di tengah hutan. saat itu mereka sedang mencari salah satu anak mapala yang menghilang sejak dua bulan yang lalu. aneh memang. selama hampir dua bulan tim SAR mencari korban yang hilang tersebut namun mereka tidak menemukannya dan barulah saat mereka menemukanku, saat itu juga mereka menemukan tulang belulang seorang mayat laki-laki yang diduga sebagai korban yang sedang mereka cari yang tertimbun tidak jauh dariku. usut demi usut korban tersebut bernama SEANDRI PRATAMA.

benarkah itu Sean ? sean, teman di tengah rimba ?
jadi.... sean itu
aku hanya termenung mengingat kembali saat-saat bersama sean.

"malang sekali nasibmu sean, kau terjebak disana untuk waktu yang lama. sendiri dan berteman sepi. semoga kini kau damai di alammu."

sesuai janji aku pergi menemui ibu sean dan Risa. beruntung aku bisa mendapatkan alamat mereka. mereka bilang sean itu anak yang baik, sangat berbakti kepada ibunya  dan sangat menyayangi adiknya. selain pintar dia juga sosok yang idealis, apa adanya, ya mungkin hampir tanpa cela.

Tentu tak pernah terbayangkan bagi mereka yang ditinggalkan. semua terjadi
tanpa salam tanpa pertanda. Sean pergi dan kini tinggal nama.





















































Tidak ada komentar:

Posting Komentar