Senin, 26 Maret 2012

putih asapmu... gelapkan alamku

hupla..... aku kembali. uyyeeee
kenapa ?? kenapa ?? apakah aku terlihat gaje malam ini ??
mungkin ini pengaruh akhir bulan (alibi)
malam ini seperti biasa namun sedikit berbeda (apaan coba). kutatapi langit-langit kamar sembari bersandar di pinggiran ranjang. menerawang lebih jauh tentang sesuatu yang sulit untuk dimengerti, semakin kupikirkan semakin jauh jalan terangnya.
lalu aku berpikir lagi, lagi, dan lagi. hingga akhirnya aku Galau. haha... bukan itu.

tadinya aku bingung apa yang harus aku tulis disini tapi tiba-tiba ilham datang menghampiriku, tepatnya ketika seseorang melintas di pikiran ku. bukan dia yang ingin ku ceritakan namun sesuatu yang seakan menjadi ciri khasnya, yang selalu menemani mereka dalam kondisi apapun (sok tahu yaa ^^). suatu benda bernama ROKOK.

Ya. Rokok, seakan menjadi bagian hidup untuk mereka yang sudah kecanduan. sedikit sok tahu untuk membahasnya kali ini. aku sendiri sebenarnya termasuk orang yang sangat anti dengan yang namanya rokok terutama asapnya. tapi lingkungan sekitarku yang didominasi oleh teman-teman yang hobi merokok tentu secara tidak langsung membuatku menjadi perokok pasif dan sangat menyebalkan kalau terkadang harus terjebak dalam satu ruangan dengan asap-asap rokok tersebut.





awalnya rokok digunakan oleh suku bangsa Indian sebagai alat ritual pemujaan roh atau dewa. tapi sesuai perkembangan zaman, rokok beralih fungsi hanya sekedar menjadi kesenangan.
rokok adalah benda beracun yang mampu memberi efek santai dan sugesti merasa lebih jantan. dibalik manfaatnya yang secuil itu bahaya yang disebabkannya jauh lebih besar baik untuk perokok itu sendiri maupun orang yang ada di sekitar perokok yang bukan perokok alias perokok pasif. asap rokok yang baru mati di asbak mengandung tiga kali lipat bahan pemicu kanker di udara dan 50 kali mengandung pengiritasi mata dan pernafasan. orang yang mencoba merokok biasanya cenderung ketagihan karena rokok bersifat candu yang sulit diatasi. setiap rokok mengandung lebih dari 4000 jenis bahan kimia, 400 dari bahan tersebut dapat meracuni dan 40 dari bahan tersebut dapat memicu kanker.


hampir semua perokok mengetahui akibat yang ditimbulkan oleh rokok, seperti : stroke, kemandulan, keguguran, kerusakan mata, penyakit jantung, emfisima, otot lemah, dan berbagai penyakit berbahaya lainnya. tidak hanya merugikan kesehatan diri sendiri dan orang lain, ternyata rokok beserta asapnya turut andil dalam penyebab terjadinya global warming. bagaimana tidak, untuk memproduksi 300 bungkus rokok, 1 pohon besar ditebang untuk pembuatan kertas yang kemudian digunakan untuk menggulung tembakau dan bahan pembungkus rokok. pohon berukuran besar yang memiliki efisiensi tinggi dalam menyaring udara malah ditebang dan digunakan untuk pembuatan rokok yang telah menyumbang polusi udara.


saat rokok habis dihisap, perokok dengan mudah membuang puntung rokok sembarangan. mungkin mereka berpikir bahwa bahan rokok berupa kertas dan daun kering tembakau akan dengan mudah diuraikan. kenyataannya rokok tidak hanya terdiri dari "kertas dan dedaunan kering" bahan kimia beracun yang terkandung di dalamnya dapat meracuni tempat dimana ia dibuang. perlu waktu 25 tahun untuk menguraikannya atau "mengencerkannya" di tanah. Namun bila puntung rokok tetap dibuang ke tanah, bahan beracun akan tetap masuk dan butuh waktu semakin lama untuk menguraikannya. Akibatnya tanaman menjadi sulit tumbuh dan tanah menjadi tandus.

kita bisa melihat bahwa rokok tidak ada manfaatnya bagi lingkungan dan kesehatan. karena itu alangkah baiknya jika berhenti merokok walaupun bukan hal yang mudah untuk berhenti tapi dengan tekat yang kuat dan sadar akan lingkungan serta masa depan tentunya akan menjadi senjata utama untuk terbebas dari rokok. sangat ironis memang bahwa manusia sangat memperhatikan keseimbangan alam akibat proses pembakaran bahan bakar
oleh industri yang mengeluarkan polusi, tetapi dilain pihak orang-orang dengan sengaja mengalirkan
gas produksi pembakaran rokok ke paru- paru mereka.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar